Trekking Mendebarkan ke Vineyard di Vienna Austria

Suhu Vienna saat itu 32°c dan saya lagi kesal sama papanya anak-anak 🙁 .

Kata siapa liburan itu isinya cuma senang-senang dan tawa riang. Belum coba liburan sambil nenteng dua anak balita yang aktifnya luar biasa di tengah suhu udara summer yang lagi panas-panasnya. Kadang-kadang suka terjadi ‘friksi-friksi’ kecil antara emak dan bapaknya. Entah itu karena si bapak salah ambil rute jalan yang bikin kaki emak gempor karena mesti jalan jauh, atau karena si emak masih pengen cuci mata eh si bapak malah pasang tampang cemberut sepanjang jalan (ehhmm…), atau sesederhana si bapak salah beli makanan. Ada aja yang bikin rame.

Asal jangan minta balik aja di tengah liburan. Sayang kan udah keluar duit trus liburan batal hanya karena friksi kecil di tengah liburan heheh.

***

Hari itu, karena lagi kesal, usai buatin sarapan dan bekal makanan buat siang, si emak ini ngeloyor aja keluar pergi sendiri. Rencana kami, hari itu seharusnya bareng-bareng ke vineyard di Kahlenberg Vienna. Karena saya pengen kasih liat kebun anggur sama anak-anak.

Bosan juga kan kalo cuma keliling dalam kota. Sekali-kali kami pengen menikmati keaslian alam kota yang kami datangi dengan mengunjungi daerah-daerah pinggir kotanya.

Vineyard saya pilih karena ini adalah identitas asli kota Vienna.

Banyak yang menghubungkan nama kota Vienna dengan perkebunan anggur yang banyak terdapat di sekitarnya. Walaupun asal kata dari nama kota Vienna pun masih dalam perdebatan.

Vienna sendiri dalam bahasa Jerman disebut sebagai Wien. Mungkin pelafalannya dalam bahasa Jerman ini yang membuat kota Vienna selalu dihubungkan dengan perkebunan anggur.

Tapi, di benua Eropa sendiri, kota Vienna atau Wina dalam bahasa Indonesia, adalah satu-satunya kota besar yang menjadi lokasi perkebunan dan pembuatan minuman anggur. Biasanya perkebunan dan pembuatan anggur ini di negara Eropa lain terdapat di kota-kota kecil atau pinggiran kota, jauh dari kota besar.

Tidak demikian halnya dengan Vienna. Kahlenberg yang saya kunjungi hari itu, hanya berjarak sekitar 30 menit naik mobil dari Wien Hauptbahnhof atau Central Station Vienna.

Itu bagi yang menyewa mobil atau punya kendaraan pribadi. Kalau mau naik kereta seperti saya pun tak begitu lama. Dari penginapan kami di daerah Meidling saya hanya perlu naik U-Bahn U4 turun di Heiligenstadt dan disambung bus 38A jurusan Leopoldsberg turun di halte Kahlenberg. Total perjalanan sekitar sejam.

Banyak juga yang memilih turun di Grinzing, karena lebih tertarik dengan pabrik lokal rumahan yang memproduksi minuman anggur atau yang dalam bahasa lokal biasa disebut dengan Heuriger. Untuk yang tertarik mengunjungi heuriger ini bisa naik kereta Heurigen Express yang hanya tersedia pada periode waktu tertentu.

vineyard di vienna austria
info rute dan waktu keberangkatan kereta Heurigen Express

Saya, karena saking percayanya dengan review para bule yang pernah berkunjung ke sana, memilih untuk turun di Kahlenberg. Dan sesuai panduan para reviewer itu, rencananya akan berjalan kaki menuruni bukit menyusuri kebun-kebun anggur menuju Grinzing untuk kemudian singgah beristirahat di salah satu kedai di sana sebelum melanjutkan perjalanan pulang dengan bus dan kereta balik ke penginapan.

Itu rencana saya.

Yang tidak saya perhitungkan adalah, selera petualangan para bule itu beda dengan kemampuan emak-emak yang biasanya hanya bertualang di dapur.

Para bule ini, rata-rata memberi skor tinggi untuk review trekking di Kahlenberg.

Saya pun percaya aja kalimat mereka seperti…” it’s a very beautiful view down there, and only 15 minutes walk down the hill then you’ll meet a beautiful vineyard”…atau kalimat “surely will be back, it was a nice experience”, “it was a wonderful journey”, “don’t worry, there is a path for walking”, ….bla..blaa.

Dan apa yang saya temukan adalah seperti yang ada di foto-foto ini.

vineyard di vienna austria
Bingung, mesti ngambil jalan ke kanan atau ke kiri.tulisannya dalam bahasa jerman, dan di peta pun kurang jelas

Mungkin saya kurang banyak mencari info, atau memang infonya tidak banyak, yang jelas saya kebingungan di persimpangan ini. Ga tau mesti ke kanan atau ke kiri. Mau nanya ke orang lain, ga banyak yang berlalu lalang di sini. Sepi banget.

Setelah bertanya ke bapak pemilik kios beberapa meter dari sini, barulah saya mutusin untuk mengambil jalan menurun yang sebelah kiri.

Belum hilang kebingungan saya, saya pun dihadapkan lagi oleh pertanyaan, antara meneruskan perjalanan di jalur kendaraan yang agak rawan buat pejalan kaki karena tak ada area pedestriannya, atau ambil jalan pintas menembus rimbunnya hutan.

vineyard di vienna austria
“don’t worry, there’s a path..”….only pray A Lot!

Tak berani mengambil jalan yang lebih besar karena tak tau rutenya kemana plus tak ada sambungan internet di hape, saya pun nekad mengambil jalan pintas ini sesuai saran dari review para bule. Sempat ketemu bapak-bapak paruh baya yang juga mengambil jalan ini, jadi bikin lumayan percaya diri. Masa’ kalah sama kakek-kakek. Si kakek aja kuat berjalan menembus hutan. Berdoa semoga tak ada niat jahat dari si kakek karena hanya ada kami berdua di jalan yang teramat sepi dan jauh dari pendengaran manusia ini. *Sigh

Si kakek pun berlalu, dan kekhawatiran lain pun menghampiri. Gimana kalo ada binatang buas? Tak ada siapa-siapa di sini. Kalau pun teriak bisa jadi sudah sangat terlambat.

Saat itu mendadak hafalan doa saya jadi bagus. Segala doa saya baca. Ya Allah, bagaimana kalau ada apa-apa. Suami dan anak-anak saya tak tau saya ada dimana. Tak ada sambungan internet, pergi pun tak pamit. Jadi ingat dosa deh 🙁

Di antara hafalan doa, saya berhitung dengan waktu. 5 menit, 7 menit, 8 menit, masih belum tampak jalan raya atau pun rumah penduduk. Hanya ada hutan belantara. Hening.

Setelah sekitar 15 menit, persis seperti kata para bule itu, saya akhirnya menemukan kebun anggur pertama. Kebun anggur milik Weingut Wailand. Terpampang tulisannya di pintu pagar. Tapi tetap sepi tak ada manusia. Hanya kebun anggur.

Saya mengalihkan pandangan saya ke seberangnya.

Tampak hamparan kebun anggur tanpa pagar.

Di kejauhan terlihat kota Vienna. Cantik sekali.

vineyard di vienna austria
vineyard dengan latar kota Vienna di kejauhan
vineyard di vienna austria
deretan pohon anggur dengan bongkahan anggur yang masih hijau

Masih dengan perasaan berdebar saya mendekati kebun anggur yang saya lihat. Mengambil beberapa foto sambil mengamati beberapa bongkah anggur yang masih hijau ditangkai.

Sempat mikir, qo ga dipagari ya. Apa pemiliknya ga khawatir buah anggurnya diambil orang?

Berhubung saya bukan orang jahat, buah anggur itu pun saya tinggalkan saja. Tak saya petik. Lagi pula siapa yang mau makan buah anggur yang belum matang?

Hanya beberapa menit dipenuhi perasaan senang bisa menemukan kebun anggur, menit berikutnya saya sudah mulai galau lagi. Baliknya gimana ini?

Sejauh mata memandang hanya ada kebun anggur. Tak nampak halte maupun rumah penduduk. Hanya beberapa pengayuh sepeda yang nampak melintas.

Takut nyasar, saya pun memutuskan balik ke atas menempuh jalan setapak yang tadi. Toh tadi pun alhamdulillah ga ada apa-apa.

Bismillah…insya allah aman tak ada apa-apa.

Dan memang aman seperti saat saya pergi tadi, tak ketemu binatang ataupun orang jahat…hanya saja jalannya menanjak! Emak pun ngos-ngosan pengen segera sampai atas bertemu manusia.

Tak tahan berjalan jauh dan tak ada air minum, saya pun menyerah dan duduk di tanah. Selonjoran.

Saat enak-enaknya selonjoran, sepasang bule dengan pakaian sporty melintas di samping saya. Tak banyak bicara, hanya memandang saya sekilas memastikan saya tak apa-apa.

Kali dia juga heran, ngapain ibu-ibu ini nyasar di sini?

Biar tahu saja, dandanan saya saat itu jauh lebih cocok buat ke mall daripada buat pergi trekking naik turun bukit. Abaya lebar warna pink, kerudung lebar, selop tali bahan kulit, plus tas selempang kulit yang lebih cocok buat arisan. Maakk…eikee kan rencananya bukan begini? Kan ini di Eropa, mana tau ada jalan setapak begini di Eropa, di tengah hutan pula…!! *Minta ditoyor

Saat itu kepikiran dan bersyukur ga bawa anak-anak ke sini. Bagaimana ceritanya, bawa stroller dan menembus hutan naik turun bukit seperti ini.

Intinya, jalur trekking ini hanya cocok untuk anda yang punya mental ala bule. Yang senang petualangan. Buat yang pengen jalan-jalan cantik, tempat anda bukan di sini.

Eh salah, hanya sampai di roof terrace ini. Ga perlu meneruskan perjalanan ke jalur trekking.

vineyard di vienna austria
roof terrace cafe tempat saya melepas lelah

Sampai di atas, saya bergegas mencari tempat duduk untuk melepas lelah. Siang itu panas sekali, dan kaki ini terasa begitu lelah. Saya memesan segelas lemon tea dingin dan sepotong cake untuk menghilangkan dahaga.

Setelah perut terisi dan kaki saya sudah cukup kuat untuk berdiri lagi, baru lah saya mengamati pemandangan yang ada di sekeliling roof terrace cafe ini. Terletak di ketinggian, dari cafe ini kita bebas mengamati pemandangan kota Vienna dan Sungai Donau yang membelah kota.

vineyard di vienna austria
pemandangan kota Vienna dan Sungai Donau dari roof terrace cafe di Kahlenberg

Sungai Donau ini berhulu di Pegunungan Black Forrest Jerman, melintasi Austria, dan membelah kota Budapest. Di Budapest ia dikenal dengan nama Sungai Danube, dan berhilir di Laut Hitam Romania.

Sedikit cerita tentang Kahlenberg. Konon, dari atas puncak bukit inilah bala bantuan pasukan Polandia dikirim untuk membantu pasukan Austria memukul mundur pasukan Turki Utsmani yang sudah mengepung kota Vienna selama berhar-hari di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Al Qonuni atau yang dikenal barat sebagai Sulaiman The Magnificient.

Untuk mengenang jasa pasukan Polandia, sebuah plakat bertuliskan nama Jan III Sobiesky, Raja Polandia kala itu, dipahat dekat pintu masuk sebuah kapel yang letaknya persis di seberang roof terrace cafe. Tak sempat saya potret, karena terlambat mengetahui informasinya.

Boleh dikata, bukit Kahlenberg adalah benteng kota Austria saat itu. Yang kini seolah berdiri sepi menjadi saksi sejarah di antara kerimbunan kebun anggur.

Meninggalkan kepingan sejarah di Kahlenberg, saya terpikir suami dan anak-anak di penginapan. Rasanya saya sudah harus pulang. Mungkin harus minta maaf pada suami dan anak-anak.

Alhamdulillah bus 38A menuju Heiligenstadt Bahnhof sudah menunggu di halte Kahlenberg. Segera saya naik untuk mengejar kereta U-Bahn sesegera mungkin menuju penginapan.

vineyard di vienna austria
U-Bahn U4 jurusan Hutteldorf untuk balik ke penginapan kami di Meidling

Sampai di penginapan, saya justru mencari nasi. Harap maklum sejak setelah sarapan tadi saya tak bertemu nasi. Perlu tenaga kan untuk bercerita? Banyak yang ingin saya ceritakan sama papanya anak-anak. Dan di tengah cerita, malah papanya yang minta maaf. Eeaaaa… 😀

-The End-

 

 

 

 

4 thoughts on “Trekking Mendebarkan ke Vineyard di Vienna Austria

  1. Hahahaha, ga kebayang dengan penampilan gitu malah jdnya trekking mba.. Aku kyknya udh dipastikan nyasar itu :D. Tp dr dulu pengen bgt liat perkebunan anggur. Dulu pas msh di aceh, kebun rumahku ada pohon anggur, merambat, dan lebat. Tp buahnya aseeeem hahahahaha.. Ya iyaa lah, suhu di aceh puanas puol begitu :p. Anggur manapun ga bakal bisa manis :p

    1. tetangga saya di delft juga nanem anggur rasanya masem jg mba.anggur ini memang susah siy budidayanya.makanya niat banget sy naik turun gunung buat liat pohon anggur heheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *