Menikmati Munich Bersama Dua Anak Yang ‘Emeijing’

munich bersama anak

“Fijne Vakantie Allemaal….!”.

Kalimat penuh kebahagiaan yang diucapkan guru-guru di sekolah anak saya adalah penanda dimulainya libur musim panas tahun ini di sekolah-sekolah Belanda. Libur musim panas adalah libur yang ditunggu-tunggu oleh semua warga Eropa. Tak terkecuali kami yang sedang numpang hidup di Belanda untuk sementara waktu. Tak tanggung-tanggung, waktu libur yang diberikan sekolah sampai 40 hari! Yes, 40 hari.Sebulan lebih.

Biasanya menyambut libur musim panas yang panjang, keluarga-keluarga di Belanda dan di Eropa pada umumnya, sudah punya agenda liburan yang dibuat jauh hari sebelumnya. Harap maklum, orang-orang Eropa sudah terkenal dengan ritme hidup yang begitu teratur. Agenda untuk beberapa bulan ke depan atau bahkan setahun ke depan biasanya sudah mereka buat jauh-jauh hari. Rasanya saya belum pernah ketemu kawan yang orang Eropa yang pake prinsip tiba masa tiba akal..heheh.

Semuaaanyaa serba terjadwal. Kunjungan ke dokter gigi, meeting dengan rekan kerja, mengundang kawan atau keluarga makan di rumah, sampe urusan ganti ban sepeda. Semuanya terjadwal rapi. Apalagi urusan liburan, yang kudu meng-arrange berapa lama waktu liburan, nyari penginapan dan tiket transportasi.

Kami pun akhirnya jadi belajar untuk seperti itu.

Liburan musim panas kali ini sudah kami rencanakan 4 bulan sebelumnya.

Destinasi pilihan kami kali ini ke bagian Eropa Tengah. Dan Munich adalah pemberhentian pertama kami.

Sebelumnya kami memang belum pernah ke Jerman, walaupun negara ini berbatasan langsung dengan Belanda. Ga tau deh, kami hanya belum menemukan alasan untuk berkunjung ke sini. *Sombong banget yak ma Jerman 😀 .

Karena rute kami mencakup Austria dan Hungaria, jadi mengapa tak sekalian aja mampir ke Munich. Sempat liat di Google Maps, kota Munich hanya berjarak 2,5 jam perjalanan kereta ke Salzburg Austria. Sempurna untuk melengkapi rute Salzburg, Vienna dan Budapest.

Rute Munich-Salzburg-Vienna-Budapest kami tempuh dengan menggunakan kereta api dengan rata-rata waktu tempuh 2,5-3 jam. Sementara menuju ke Munich dari Belanda, dan rute pulang dari Budapest – Belanda kami lebih memilih untuk menggunakan pesawat.

Pilihan rute bagi kami yang membawa serta dua orang balita ini jadi sangat krusial dalam menentukan rencana liburan.

Pertimbangan pertama adalah kenyamanan anak-anak, yang ke dua adalah masalah biaya.

Kota-kota di Eropa sebenarnya sangat terjangkau untuk dikelilingi dengan kereta api. Tapi tidak semua rute waktu tempuhnya kami rasa cukup nyaman untuk anak-anak kami.

Aturan pertama yang kami buat adalah waktu tempuh rute kereta yang dipilih maksimal hanya 3 jam. Lewat dari itu kami tak yakin lagi anak-anak akan merasa nyaman dan mudah dikendalikan. You know…like merengek-rengek minta turun, cape, dan berlarian di kereta. Sounds familiar to you? 😉

Insiden Kecil di Bandara Munich

munich bersama krucil
Sampai di Bandara Munich

Kami sampai di Munich dengan menggunakan  sebuah maskapai budgetair.

Berada di dalam pesawat ini rasanya seperti sedang mengalami deja vu. Maskapai ini rasanya qo mirip-mirip maskapai tanah air yang terkenal suka delayed itu lho. Beneran deh, ruang cabinnya mirip plus rasa ‘tarikannya’ 😀 . Sempat mengalami berapa kali turbulence di udara, alhamdulillah pesawat kami mendarat dengan lancar di Bandara Munich.

Keluar dari pintu kedatangan Munich kami disambut dengan gambar maskapai udara Luthfansa berukuran besar yang menjadi kebanggan Jerman.

Sempat ada insiden kecil saat si bungsu tersandung kaki papanya dan bibirnya menghantam lantai. Hantaman yang cukup keras membuat luka sobekan yang lumayan besar di bibirnya. Darah berceceran di lantai. Panik tentu saja. Jantung rasanya udah mo copot liat darah berceceran. Apalagi para penumpang yang sedang berjalan menuju ruang pengambilan bagasi jadi menoleh semua ke keluarga kami karena mendengar tangisan yang kencang dari si bungsu.

Lokasi kejadian yang tepat di depan outlet pharmaceutical dalam bandara lumayan menolong kami. Tergagap-gagap karena panik, kami menanyakan apakah ada obat untuk mengatasi luka sobek di bibir anak-anak. Oleh pramuniaganya ditawarkan alat kompres untuk menghentikan pendarahan, dan obat antiseptik. Tak lupa saya menanyakan dimana letak klinik bandara.

Alhamdulillah setelah dikompres dan dibersihkan dengan tissue yang saya basahi air es lukanya berhenti mengeluarkan darah dan kami tak perlu lagi membawa si bungsu ke klinik. Tak sampai sehari ahamdulillah luka sobek di bibir si bungsu menutup sempurna, dan kering setelah lewat 2 hari.

Saya pernah membaca tentang luka sobek di bibir yang lebih cepat sembuh dibandingkan luka anggota tubuh lainnya karena enzim yang terkandung di mulut. Dan proses penyembuhan itu akan lebih cepat pada anak-anak yang regenerasi selnya lebih cepat. Pengetahuan kecil ini lumayan menenangkan saya saat mengobati si kecil. Dan dari sini saya jadi belajar, perlengkapan P3K itu penting banget dibawa saat traveling apalagi jika kita pergi bersama anak-anak. Tau sendiri kan anak-anak kadang membuat gerakan tak terduga karena kelincahan mereka 😀 .

Odeonsplatz dan Marienplatz

Dari bandara kami langsung menuju penginapan menggunakan kereta S-Bahn yang disambung dengan kereta U-Bahn dari stasiun yang tepat berada di lantai bawah bandara. Di Munich kami memilih untuk menginap di apartemen hotel di daerah Olympiapark.

Lihat pengalaman kami di  Review Penginapan di Munich Jerman: Adagio Access Olympiapark

Karena hari sudah sore, dan badan masih lelah karena naik turun pesawat dan kereta sambil mendorong koper dan stroller anak-anak, kami tak membuat agenda kunjungan hari itu. Hanya papanya anak-anak saja yang melakukan ritual wajib hari pertama tiap liburan kami…. belanja ke supermarket! 😀

Esoknya harinya, petualangan kami dimulai.

Kunjungan pertama dimulai dari kawasan centrum atau pusat kota di Munich, yang itu berarti di Odeonsplatz dan Marienplatz.

Dari penginapan kami, hanya perlu naik U-Bahn sekali dan berhenti di stasiun yang tepat bersisian dengan Odeonsplatz.

Odeonsplatz sendiri adalah lapangan luas yang dikelilingi kompleks bangunan yang menjadi icon landmark Munich. Di antaranya Feldherrnhalle dan Theatinerkirche.

Bangunan Feldherrnhalle tampak lebih eyecatching di mata saya dibandingkan bangunan lain di sekitarnya. Bentuknya yang lebih menyerupai rectangular structure dengan 3 kolom melengkung di tampak depan membuatnya nampak berbeda dari bangunan klasik lain. Teras pendek yang berada di bagian depannya, sepertinya sering digunakan untuk panggung pertunjukkan. Seperti yang kami lihat hari itu.

munich bersama anak
Gedung Feldherrnhalle yang sayangnya lagi ada event, jadi deh dipagari dan ga bisa ngambil foto yang lebih bagus

Konon, bangunan ini memang dibuat untuk acara parade, rally ataupun acara penghormatan terhadap prajurit sejak jaman King Ludwig of Bavaria hingga era Nazi. Jadi, hormat prajurit ala Hitler yang sering kita liat di film-film dokumentasi itu salah satu location setting-nya ya di sini.

Karena hari itu Feldherrnhalle-nya lagi dipagari buat suatu acara, kami jadi tak bisa masuk mendekat dan hanya mengambil foto sekedarnya.

Kami pun lalu mengambil jalan yang tepat bersisian dengan bagian samping dari gedung Feldherrnhalle untuk menuju Marienplatz.

Rute yang cukup menyenangkan bagi ibu-ibu, karena sepanjang jalan dipenuhi dengan outlet maupun butik fashion kenamaan! Emak jadi bisa cuci mata deehh 😀

munich bersama krucil
shopping area di sepanjang ruas jalan yang menghubungkan Odeonplatz dengan Marienplatz

Musim panas yang cerah itu jadi semakin bertambah cerah dengan adanya Summer Sale yang biasanya memang digelar selama bulan Juni-Juli di Eropa.

Sempat dibikin bahagia waktu liat tulisan SALE UP TO 70% terpampang di jendela outlet Massimo Dutti. Ketemu celana chino pria seharga €25, sepatu kulit pria seharga €50, kaos polo €15, dan blazer-blazer cantik yang ukurannya tak muat di badan emak hanya seharga €20. Surga bener bagi para pecinta diskon 😀 Emak ngeborong?Ga…ngeliatin harganya doank. Wkwkwkwk

Sesampainya di Marienplatz kami disambut dengan lautan manusia yang sepertinya rindu dengan siraman cahaya matahari. Warga Munich dan para turis tumpah ruah memenuhi sudut-sudut Marienplatz. Kami pun tak kuasa menolak keinginan anak-anak untuk jajan es krim karena sinar matahari memang cukup terik siang itu.

Bangunan utama di Marienplatz adalah sebuah stadhuis atau balaikota, yang terkenal dengan panggung boneka di bagian menara utamanya. Waktu itu sempat bingung juga, saat beberapa turis tiba-tiba bergerombol dan mengarahkan kameranya bersama-sama ke bagian utama menara. Oh, ternyata saat itu sedang ada puppet show yang biasanya memang diadakan pada jam-jam tertentu setiap harinya.

munich bersama krucil
Marienplatz dengan dengan gedung stadhuis yang iconic
munich bersama krucil
ketemu becak di marienplatz 😀

Setelah mengambil beberapa foto di  stadhuis, kami pun melanjutkan acara jalan-jalan di sekitar Marienplatz.

Dan sepertinya saya harus menyerah dengan summer sale, saat akhirnya discount gede-gedean di Hunkemöller, merk pakaian dalam wanita yang super nyaman itu berhasil memaksa emak untuk buka dompet. Sekalian juga, karena kebetulan si sulung perlu beli sandal, si bungsu perlu beli celana pendek dan papanya anak-anak juga kebetulan perlu beli kaos baru. Semua mendadak kebetulan saat mata menangkap tulisan DISCOUNT SPECIAL UP TO 70%!

munich bersama krucil
emak pun tenggelam di belantara summer sale!

Siapa tu ya, yang pernah bilang “godaan terbesar bagi pria adalah wanita, dan godaan terbesar wanita adalah SALE” ? So basically men should be more aware with this SALE kind of thing. *Grin.

Deutsche Museum dan BMW Museum

Merasa kenyang dengan godaan summer sale, esok harinya kami putuskan sebagai ‘museum day’ dalam agenda liburan kami. Salah satu alasannya, karena di museum kami tak akan bertemu summer sale…heheheh.

Tapi berkunjung di museum di Jerman, memanglah sebuah keharusan. Apalagi museum yang berkaitan dengan kemajuan teknologinya. Rugi rasanya kalau tak bisa melihat dari dekat tahapan perkembangan teknologi yang sudah dilalui negara ini.

Dua yang berada di top list kami adalah Deutsche Museum dan BMW Museum.

Kami memutuskan untuk mengunjungi Deutsche Museum di pagi hari terlebih dahulu.

Deutsche Museum di Munich adalah museum sains dan teknologi terbesar di Jerman dan bahkan dunia. Museum ini menyimpan tidak kurang dari 28.000 objek pameran dari 50 bidang sains dan teknologi.

Sebelum berkunjung ke sini, kawan kami sudah mewanti-wanti agar menyediakan waktu seharian karena luasnya museum yang harus dikelilingi. Benar saja,  sesampainya kami di sana dan setelah membaca brosur yang kami ambil di pintu masuk, kami harus membuat keputusan akan berkunjung ke ruang pameran yang mana.

Karena hari itu ada 2 agenda utama kunjungan ke museum, kami harus ketat membatasi jam kunjungan kami di Deutsche Museum.

munich bersama anak
Deutsche Museum di sisi Sungai Isar

Deutsche Museum sendiri di Munich terdapat di tiga lokasi, museumsinsel yang kami kunjungi hari itu, Verkehrszentrum atau Museum Transportasi Mobil dan Kereta, dan Flugwerft Schleissheim atau Museum Pesawat Terbang di Schleissheim pinggiran kota Munich.

Museumsinsel yang kami kunjungi hari itu terdiri dari delapan lantai, yang masing-masing lantai dibagi berdasarkan tema bidang keilmuan. Kami memulainya dari lantai basement yang bertemakan environmental science. Saya cukup lama mengamati penjelasan tentang teknologi sewage treatment di salah satu pojok ruangannya. Teknologi sewage treatment ini dipakai untuk menjernihkan aliran Sungai Isar yang membelah kota Munich dan tepat melintas di salah satu sisi bangunan Deutsche Museum.

Saya pernah membaca berita yang tengah viral di sosial media tentang seorang pria yang memilih untuk berenang menuju kantornya daripada harus terjebak macet di jalanan kota Munich. Dan sungai yang ia lalui sambil berenang tiap hari itu adalah Sungai Isar ini 😀

Kalau saya tertarik dengan berbagai alat peraga di ruang Environment-nya, maka anak-anak saya lebih menikmati mencoba berbagai alat peraga di ruang Microelectronic ataupun mencoba simulasi di ruang Historic Aviation.

 

munich bersama anak
si bungsu asyik menikmati alat peraga di ruang microelectronic
munich bersama anak
Ruang Historic Aviation, kita jadi belajar sejarah penerbangan dunia di sini, mulai dari ide pesawat terbang yang pertama

Sayang sekali, waktu 2 jam terlalu singkat untuk menikmati museum ini. Papanya anak-anak bersama si bungsu harus bergegas untuk sholat jumat di masjid, sementara saya dan si sulung menunggui mereka sembari makan siang di kantin museum.

Beres makan siang, museum berikutnya telah menanti kami. BMW Museum.

Tak menyia-nyiakan sisa waktu hari itu, kami buru-buru menuju BMW Museum yang terletak di kawasan Olympiapark, sebelum waktu kunjungan ke museum itu habis. Sengaja kami mengakhirkan berkunjung ke BMW Museum hari itu karena jam operasional museumnya sejam lebih lama dibandingkan Deutsche Museum yang tutup tepat jam 5 sore.

Karena lokasi BMW Museum terletak di kawasan Olympiapark berdekatan dengan lokasi penginapan kami, alhamdulillah kami tak perlu mengambil rute lain selain rute menuju penginapan.

Tepat pukul 4 sore, kami pun sampai di BMW Museum.

Kalau tadinya di Deutsche Museum aura bangunan klasik khas Jerman sangat terasa, maka di BMW Museum kami disambut dengan bangunan bergaya futuristik nan megah. Seolah mengesankan produk yang mereka pajang di dalam adalah produk dari masa depan, mobil elegan nan canggih.

munich bersama anak
BMW Museum

Baca juga: Mengagumi Teknologi Jerman di BMW Museum

Si bungsu yang sempat tertidur di bus dalam perjalanan menuju ke sini, saat terbangun di dalam museum seketika seolah mendapatkan energi baru. Berdua dengan sang kakak, ia pun dengan begitu lincahnya mengamati satu demi satu mobil yang dipamerkan 😀

Beberapa menit menjelang jam kunjungan habis, kami menuntaskan kunjungan kami di BMW Museum dengan membeli beberapa souvenir di souvenir shopnya. Saatnya untuk balik ke apartemen, mempersiapkan perjalanan kami untuk esok hari menuju Salzburg.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *