Mencari Garam, Bernyanyi Do Re Mi dan Bertemu Mozart di Salzburg

mencari garam mozart di salzburg

Aneh ya judulnya??….hehehe.

Kalau belum baca sejarah kota Salzburg, judul di atas pasti terasa aneh. Tak banyak memang yang tau arti nama dari kota Salzburg. Termasuk saya sebelumnya.

Salzburg berasal dari bahasa Jerman yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris artinya menjadi ‘Salt Fortress’ alias ‘Benteng Garam’. Naah… baru terlihatkan kan hubungannya dengan ‘garam’ πŸ˜€

Dalam sejarahnya, dahulu kala kota ini memang menggantungkan hidupnya pada pertambangan garam yang banyak terdapat di pegunungan sekitar Salzburg. Unik ya, selama ini yang kita tau garam dihasilkan dari air laut. Lha ini, qo ada di atas gunung? Dan saya pun baru tau kalau di Indonesia juga ada pertambangan garam di dataran tinggi serupa ini, berlokasi di daerah Kalimantan Timur. Konon garam hasil pertambangan di daerah pegunungan ini kandungan yodiumnya lebih tinggi dan punya nilai jual lebih tinggi.

Tentang garam ini memang menarik. Sampai-sampai urusan impor garam pun jadi headline utama di media tanah air beberapa waktu yang lalu. Garam mahal, ibu-ibu pasti deh ribut…heheheh.

Saya sendiri baru tau fungsi lain dari garam selain sebagai bahan wajib masakan ibu-ibu di dapur. Saat kami jalan-jalan di Deutsche Museum Munich di ruangan yang menjelaskan tentang teknologi nuklir, di salah satu explaination board-nya disebutkan kalau bahan utama yang dibutuhkan dalam pembuatan reaktor nuklir adalah garam.

Luar biasa ya fungsi garam ini, bukan hanya dibutuhkan sama emak di dapur πŸ˜€

Garam di Salzburg hasil tambang ini kemudian diangkut melalui Sungai Salzach yang membelah kota Salzburg untuk kemudian diperdagangkan. Saking berharganya nilai garam saat itu membuat hasil tambang ini mendapat julukan sebagai ‘white gold’.

Sampai sekarang, tambang bekas peninggalan zaman dahulu masih bisa kita saksikan dan dikemas dalam paket wisata ‘salt mining tour’.

Tapi bagi kami, Sungai Salzach hari itu jauh lebih kami nikmati hanya dengan berjalan-jalan di pinggir sungainya. Mengamati Benteng Hohenzalburg yang iconic di kejauhan sembari menyusuri pasar lokal di tepi sungai yang menjual beragam hasil kerajinan dan aneka makanan yang menggugah selera.

mencari garam mozart di salzburg
Salzach River, Hohensalzburg Fortress and local market by the river
mencari garam mozart di salzburg
Stall masakan Thailand yang cita rasanya mengobati rasa kangen masakan tanah air

Kami berhenti di salah satu stall yang menjual makanan khas Thailand, bergabung dengan para bule yang juga ikut mengantri. Aroma fragrant rice alias beras pandan wangi dan mie goreng nampaknya berhasil menarik perhatian para bule untuk ramai mengantri. Kami memesan seporsi mie goreng seafood dan 2 porsi calamary untuk mengganjal perut kami hingga tiba jam makan siang nanti.

Salzburg dan Musik

Selain tambang garam, ada satu kata kunci lagi untuk menyebut Salzburg, yaitu musik. Lebih jelas lagi kalau disebutkan dalam frasa Sound of Music. Yang saya sebutkan ini pasti sudah pada kenal ya. Film drama yang melegenda di stasiun televisi jaman kami masih kanak-kanak dulu. Kami, karena saya tidak tau pemirsa pecinta drakor sudah lahir atau belum jaman itu…hehehe.

Saya sendiri sebenarnya tidak punya ingatan yang banyak tentang film ini. Masih lebih nempel kisah Bonanza atau Little House on The Prairie sih. Tapi harus saya akui, pemerintah kota Salzburg sangat pandai mengemas pariwisata di Salzburg, hingga kota kecil lokasi syuting film ini bisa mendatangkan jutaan wisatawan tiap tahun hanya dengan menjual popularitas film yang terkenal dengan soundtrack Do Re Mi.

Alam Salzburg yang iconic dan mampu ditampilkan secara apik dalam film itu mampu memikat para turis untuk terus berdatangan.

Baca juga: Beautiful Escape to St Gilgen

Sampai hal sederhana semacam gazebo, atau kolam air mancur dan gerbang istana pun jadi lokasi favorit para turis untuk mengambil foto. Tak terkecuali kami πŸ™‚

Satu tempat yang jadi lokasi wajib untuk anda pecinta Sound of Music, adalah Mirabell Palace. Istana ini mungkin lokasi syuting yang paling ramai dikunjungi dibandingkan lokasi lain. Bisa jadi karena letaknya di tengah kota. Atau mungkin juga karena panoramanya yang memang cantik.

mencari garam mozart di salzburg
‘Julie Andrews’ cilik berpose di taman bunga Mirabell Palace πŸ˜€

Dari tangga gerbang lokasi Julie Andrews menari-nari, kita bisa menangkap pemandangan cantik berupa taman bunga dan Benteng Hohensalzburg dikejauhan.

Saya belum pernah melihat tangga gerbang yang paling ramai dipadati orang untuk berfoto selain gerbang ini. Saking padatnya, tak jarang kita mesti mengantri untuk mengambil foto di sini πŸ˜€

mencari garam mozart di salzburg
gerbang yang terkenal itu, sesaat setelah para turis membubarkan diri berfoto di sini. tampak Benteng Hohensalzburg di kejauhan

Salzburg dan Mozart

Image musik nampaknya menempel erat pada kota kecil ini. Apalagi mengingat komposer musik legendaris dunia terlahir di sini. Siapa yang tak kenal Mozart. Walaupun bukan penggemar musik klasik dan dari segi komposisi lebih menikmati Fur Elis ataupun Moonlight Sonata karya Beethoven, setidaknya lebih dari sekali saya pernah mendengar Eine Kleine Nachtmusic karya Mozart yang terkenal itu.

Mozart terkenal bukan hanya karena karya-karyanya. Kisah hidupnya yang penuh drama juga tak lepas dari ulasan berbagai media. Terlahir sebagai prodigy yang mampu mencipta komposisi musik dalam usia yang sangat belia, melewati berbagai ujian krisis finansial dan karirnya sebagai komponis istana dan gereja, keterlibatannya dalam organisasi Freemason, hingga kisah cintanya yang dramatis, Mozart akhirnya harus tutup usia dalam usia yang masih terbilang muda, 35 tahun.

Meski tutup usia dalam usia sangat muda, tapi di Salzburg kita akan menemukan namanya hampir di tiap sudut kota ini. Museum Mozart Gebuurthaus, Mozart Woonhaus, Mozartplatz, Mozartstrasse, Mozart University, Cafe Mozart, hingga cemilan coklat yang jadi souvenir khas Salzburg, Mozartkugeln.

mencari garam mozart di salzburg
Mozartkugeln, cemilan coklat dengan marzipan yang tersohor itu

Nama Mozart seolah menjadi ‘magic charm’ selain Sound of Music.

Mengunjungi rumah kelahiran Mozart, di sekitarnya kita akan bertemu dengan kompleks komersil yang ramai dipadati wisatawan. Kami sempat mampir untuk mencicipi Salzburg Nockerl di Cafe Mozart yang konon merupakan dessert paling populer di cafe itu. Rasanya sih ga istimewa, hanya terbuat dari kocokan putih telur yang dipanggang di atas base cranberry dan gula. Bentuknya dibuat serupa gunung, yang katanya melambangkan pegunungan yang mengelilingi Salzburg.

mencari garam mozart di salzburg
mozartgebuurthaus yang dipadati turis
mencari garam mozart di salzburg
shopping area di sekitar mozartgebuurthaus
mencari garam mozart di salzburg
Salzburg Nockerl di Cafe Mozart seharga 13,50 euro.mending coba dessert yang lain deh di cafe ini

Walaupun tak pernah dikunjungi Mozart, karena baru berdiri 3 tahun setelah Mozart meninggal, Cafe Mozart termasuk salah satu cafe yang legendaris di Salzburg dan cukup ramai dikunjungi.

Dari Museum Mozart Gebuurthaus, tinggal berjalan kaki kita sudah akan bertemu dengan berbagai landmark kota ini. Patung Mozart di Mozartplatz dan Residenzbrunnen di Residenzplatz terletak tidak jauh dari sini.

Karena melewati Residenzplatz pula, kami tak kuasa mengatasi rengekan putri kami untuk mengelilingi kota dengan kereta kuda yang mengingatkannya dengan kereta kencana para princess dalam film-film Disney. Ongkosnya lumayan juga. €40 euro sekali jalan atau sekitar enam ratus ribu rupiah. Ongkos yang lumayan mahal bagi traveler hemat seperti kami.

mencari garam mozart di salzburg
kereta kuda dari Residenzplatz dengan tarif 40 euro sekali keliling

Rezidenzplatz adalah sebuah kompleks berisi sejumlah bangunan penting seperti Salzburger Dom (Salzburg Cathedral), Salzburg Museum, Residenzgalerie dan tentu saja sejumlah toko souvenir. Kompleks ini berdiri mengelilingi sebuah lapangan yang di tengahnya terdapat kolam air mancur yang juga menjadi salah satu lokasi dalam shooting scene dari film Sound Music. Air Mancur ini dikenal dengan nama Residenzbrunnen.

mencari garam mozart di salzburg
lukisan cat air karya seniman jalanan yang dijual di sekitar Residenplatz
mencari garam mozart di salzburg
toko souvenir tidak jauh dari Residenzplatz
mencari garam mozart di salzburg
patung Mozart di Mozartplatz

Hanya beberapa meter dari situ, kita akhirnya bertemu Mozart di Mozartplatz dalam bentuk sebuah patung yang berdiri tegak. Dalam wujudnya yang seperti itu, mungkin Mozart sendiri tak akan berpikir figurnya akan diabadikan sedemikian rupa setelah melewati serangkaian kesulitan hidup yang menderanya, dalam kota kecil yang kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di benua biru.

 

 

 

 

 

One thought on “Mencari Garam, Bernyanyi Do Re Mi dan Bertemu Mozart di Salzburg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *