(Almh) Indria dan Transportasi Umum Kita

transportasi umum

Masih ingat kan tentang transkrip perseteruan suami istri di Bogor yang berakhir tragis itu? Benar atau tidaknya transkrip itu wallahu a’lam, saya tak mengetahuinya karena tak lagi mengikuti perkembangan beritanya.

Tapi jujur deh, berapa dari kita yang familiar dengan pertengkaran suami istri yang seperti itu? Atau kalau ga, rengekan anak ke bapak, yang intinya sama “….minta mobil bagus!”.

Rasanya seperti hal yang tak asing. Walaupun untuk kasus di Bogor diwarnai drama yang berujung fatal.

Mobil bagus sepertinya sudah jadi syarat mutlak status sosial kita diterima di masyarakat. Tak peduli seberapa besar manfaat seseorang di tengah masyarakat, seberapa terpelajarnya ia, jika masih nebeng mobil orang lain, ia tak akan dipandang dalam masyarakat kita.

Maka, semua berlomba-lomba memiliki mobil yang layak. Tak peduli lagi daya tampung jalanan kita seperti apa. Itu urusan Bina Marga dan berharap mudah-mudahan ada kesalahan dalam mengitung daya dukung jalan raya.

Antrian leasing kendaraan pun ramai untuk memenuhi ‘tuntutan hidup’ ini.

Tapi apakah ini salah? Keinginan memiliki mobil layak untuk diri dan keluarga. Untuk mengantarkan kita memenuhi hajat hidup kemana-mana?

Saya yakin, pertanyaan ini pula yang bikin pusing para perencana pembangunan kita di Bappenas dan Departemen PU sana.

Karena memang tak ada yang salah dengan keinginan itu. Mengingat mobil saat ini adalah satu-satunya transportasi paling nyaman yang bisa dinikmati. Kita tak punya pilihan lain.

Naik motor dibegal. Naik angkot diperkosa. Naik metromini dicopet. Naik bus umum resiko pelecehan seksual. Naik kereta bejubelnya ampun-ampunan.

Mau naik apalagi? Maka tak ada yang bisa menyalahkan ketika jalan raya dipadati dengan mobil-mobil pribadi.

Saya hanya berharap mudah-mudahan pemerintah kita tak putus asa mencari solusinya.

***

Cerita yang akan sangat berbeda jika anda ke negara lain yang lebih maju. Transportasi adalah hal berbeda yang paling mencolok yang bisa kita rasakan.

Saya tak tau apakah anda yang sering keluar negri bepergian dengan kendaraan umum seperti saya atau tidak. Tapi saya menyarankan agar anda mencobanya.

Dan berharap mudah-mudahan bapak-ibu pejabat yang studi banding di negara maju mencoba untuk naik kendaraan umumnya, jangan hanya menumpang kendaraan yang sudah disediakan.

Kalau pernah naik kendaraan umum di ibukota kita dan negara lain yang lebih maju, anda pasti bisa rasakan bedanya.

Tak ada perasaan minder, tak nyaman ataupun was-was meski harus bergabung dalam kerumunan penumpang lain dalam satu gerbong kereta ataupun bus.

Bagaimana tidak, bus atau keretanya dibuat benar-benar nyaman. Ruang penumpang yang terasa mewah, bersih dan nyaman. Membawa stroller ataupun koper besar bukan masalah. Bahkan membawa serta hewan peliharaan ke dalam bus atau kereta pun penumpang tetap merasa nyaman. Bus dan keretanya didesain untuk mengakomodir semua kebutuhan penumpang.

 

transportasi umum
kalau transportasi umumnya semewah ini, siapa yang perlu beli mobil?ke tempat tujuan lebih tepat waktu, lebih hemat, tak kena macet, bisa buat ngangkut kawan sekampung pula 😀
transportasi umum
ruang penumpang yang nyaman, sampai stroller pun ikut masuk
kendaraan umum
jalur kendaraan umum yang terpisah dari jalur kendaraan pribadi, jalur sepeda dan jalur pejalan kaki

Dengan tarif terjangkau yang dibuat sesuai opsi kebutuhan kita, mau beli tiket untuk sekali jalan, sejam, atau sehari, pilihan yang ada dibuat fleksibel sesuai kebutuhan dan kemampuan kita.  Cara pembayarannya pun mudah dan nyaman. Mau beli di loket yang dilayani petugas, atau di mesin tiket atau beli lewat website, tinggal pilih mau yang mana.

Rute tinggal liat di peta yang tersedia secara online di Google Maps atau aplikasi transportasi khusus negara tersebut. Tak ada cerita tak jadi berangkat karena tak tau jalan dan tak ada kendaraan umum. Kendaraan umum di negara maju menjangkau hingga ke pelosoknya. Yaa…paling jauh jalan sekitar 1,5 km. Jalan kaki sejauh itu sudah biasa bagi warga negara maju yang memang sudah terbiasa dengan gaya hidup sehat. Hayo siapa yang manja, malas jalan kaki?

Pernah liatkan foto Perdana Mentri Inggris David Cameron atau selebritis sekelas Keanu Reeves dan Katie Holmes naik metro? Bisa dibayangkan kendaraan umumnya senyaman apa, sampai mereka tak perlu merasa jatuh harga diri hanya gara-gara naik kendaraan umum.

Selain kenyamanan kendaraan umum, di negara maju seperti Belanda persoalan memiliki mobil bukan hanya pada ketatnya aturan pajak tapi juga ketidakleluasaan mencari tempat parkir. Selain tarif parkir yang lumayan mahal, tak jarang pemilik kendaraan pribadi harus memarkir kendaraannya jauh-jauh. Bahkan salah seorang kawan kami suatu waktu terpaksa harus naik tram dari tempat parkir ke lokasi yang ia tuju saking sulitnya mencari tempat parkir.

Itu persoalan yang harus dihadapi pemilik kendaraan tentu saja setelah memiliki SIM. Perlu anda tau, memiliki SIM di negara maju tak segampang memesan SIM pada calo. Anda mesti membayar secara resmi dan harus lulus ujian yang tak semua sukses melewatinya, pleuuuss membayar sejumlah biaya kursus yang nominalnya sama dengan biaya sewa apartemen 1 hingga 2 bulan. Kalau ujian gagal, duit melayang. Daripada duit melayang mending naik kendaraan umum toh?

Maka pemilik kendaraan pribadi di negara maju seperti Belanda pun seolah dituntut untuk bijak menggunakan kendaraannya, dengan menggunakannya seperlunya. Ini tentu pilihan yang jauh lebih baik untuk alasan kenyamanan di jalan raya dan tentu saja bagi lingkungan. Bukankah jauh lebih nikmat melenggang di jalan raya yang tak padat dengan kendaraan pribadi? Berapa banyak polusi udara dan pemakaian energi bumi yang bisa ditekan karena hal ini?

***

Sebelum ada yang protes dengan tulisan saya di atas, baiklah saya harus mengakui kalau saya membenarkan 100% ucapan dosen saya di kampus dulu. Beliau mengatakan, masalah pembangunan yang ada di kita ini hanya sekitar 20% yang merupakan masalah teknik, selebihnya 80% adalah masalah sosial.

Urusan membangunan fasilitas transportasi mungkin bukan hal yang sulit. Negara tetangga terdekat kita seperti Singapura dan Malaysia saja bisa membangunnya, mengapa kita tidak?

Tapi ada persoalan lain. Dan itu tentang kita.

Untuk bisa menikmati kenyamanan transportasi ala negara maju, penduduknya telah dibiasakan dengan aturan. Tak ada kenyamanan tanpa tegaknya aturan bukan?

Pertanyaannya adalah apakah kita siap dengan aturan yang nantinya disepakati.

Membayar tarif kendaraan sesuai harga. Tertib memasuki kendaraan umum. Tidak membuang sampah. Menghargai penumpang lain. Memberikan hak penumpang ibu hamil, anak-anak, manula dan orang cacat. Menghargai petugas.

Jangan salah, di negara maju sopir bus ataupun kondektur sangat dihargai. Di Belanda sini, saat berpapasan dengan sopir sesaat setelah naik, penumpangnya akan menyapa sopan dengan kalimat seperti “Goede Morgen/Middag/Avond (selamat pagi/siang/malam)”, “Hello..“, begitu pula saat turun, penumpang akan dengan sopan mengucapkan kalimat “Danke well (terima kasih)…”, “Tot Ziens (sampai jumpa)…” atau ” Fijne dag (semoga harimu menyenangkan)…”.

Sopir dan kondekturnya pun seragamnya ga kalah necis dengan orang-orang kantoran. Tak ada alasan untuk tak menghormati mereka. Dengan begini, penumpang maupun petugas transportasi sama-sama merasa sebagai warga yang terhormat walaupun naik kendaraan umum.

Di banyak negara Eropa, pengecekan tiketnya sudah menggunakan honor system. Dengan honor system ini, atau biasa juga disebut trust system, tiket penumpang tidak selalu dicek. Petugas memeriksa tiket sewaktu-waktu secara random. Tak membeli tiket, mesti siap membayar penalty berkali lipat.

Tapi sepanjang saya naik kendaraan umum di Eropa, jarang banget ketemu penumpang yang tak memiliki tiket. Entah karena kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kelangsungan transportasi umum milik bersama, atau juga karena tak ingin membayar penalty yang mahal, yang jelas seperti inilah yang harus terjadi agar transportasi umum tetap nyaman digunakan.

Saya sendiri tak begitu tahu setinggi apa level profesionalitas petugasnya, tapi transportasi tiba tepat waktu sudah jadi hal mutlak di negara maju. Tak ada cerita bus atau kereta tiba terlambat hingga berjam-jam. Kalaupun ada rencana perbaikan atau perawatan fasilitas, pengumuman kepada penumpang sudah ditempel jauh hari. Jarang banget mendengar gerutuan calon penumpang karena hal ini.

***

Pendek kata, saya yakin transportasi yang maju bukan hanya mimpi bagi negri kita selagi kita mau belajar dan serius mengupayakannya.

Teknologi kereta yang canggih mungkin akan terlalu mahal, tapi sistem transportasi bus yang nyaman dan layak sangat mungkin untuk kita upayakan. Belajar dari kota kecil Cordoba di Spanyol, pemerintahnya mampu menyediakan layanan bus umum yang nyaman dan menjangkau hingga ke jalanan kecil perumahan warga. Hal yang sangat mungkin diupayakan untuk kota-kota lain di Indonesia.

Dan sebelum anda salah menangkap pesan saya, terus terang saya katakan saya tidak berpikir bahwa masalah transportasi kita melulu soal fasilitas. Tapi sebelum itu, artikel ini hendak menyadarkan kita semua tentang pentingnya transportasi umum yang nyaman dan manusiawi. Dan ini perlu kerjasama semua pihak.

Saya yakin sebagian besar dari kita mungkin masih berpikir, masalah transportasinya akan selesai hanya dengan memiliki kendaraan pribadi, but like i said…that’s actually a major problem. Karenanya solusi untuk transportasi umum ini tak bisa lagi ditunda.

Harapan saya mungkin sederhana. Agar transportasi bukan lagi hambatan dalam keseharian kita. Agar tak ada lagi keluarga yang berkecil hati karena tak punya kendaraan pribadi, agar kita tak lagi mengkastakan masyarakat kita berdasarkan kepemilikan kendaraannya. Bukankah menyenangkan bertemu berbagai macam manusia dalam kendaraan umum yang nyaman dan manusiawi? Merasakan kita sebagai satu masyarakat dalam kasta yang sama. Sama-sama berhak atas kenyamanan berkendara.

Seandainya transportasi kita senyaman negri lain, mungkin tak perlu lagi ada kasus seperti yang terjadi pada Almarhumah Indria. Wallahu a’lam.

 

#saya tulis karena rasa cinta saya pada Indonesia, bukan karena saya bangga tinggal di negri orang

 

One thought on “(Almh) Indria dan Transportasi Umum Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *